Teknologi Bahan dan Pengendalian Mutu : Beton Pracetak
Nama Saya
adalah Oktabriyan Syah yang merupakan mahasiswa jurusan Teknik Sipil Institut
Teknologi Bandung. Saya dan satu angkatan mahasiswa teknik sipil 2014
mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi PT. Wika Beton dan Wika Kobe Karawang
dalam rangkaian acara kuliah lapangan.
Berikut Informasi
umum dari kulap yang telah dilakukan:
Penjelasan k3
dan Peraturan tamu
-Gunakan alat
keselamatan
-Berjalan di
area garis kuning
-Dilarang
mengabadikan gambar (proses) kalo produk jadi gak apa2
-Dilarang
merokok di area plant
-Dilarang
bertanya langsung kpd operator
-Tidak boleh
masuk area terlarang
-Jika terjadi
huru hara gempa sirine akan berbunyi
-ketentuan
berlaku di semua pabrik wika
Penjelasan
tentang Wika Beton
Terdapat 9
pabrik di Indonesia dengan Kapasitas pabrik karawang 240.000 ton/tahun. Lokasi
di kawasan surya cipta dengan Luas pabrik karawang 10.4 ha. Terdiri dari 4
plant produksi, 2 batching plant, workshop tulangan.
a) Plant 1 (8 cetakan): sedang produksi box girder untuk proyek
mrt (mrt 101,102,103)
contoh box
girder: Jalan layang non toll jakarta, jalan layang khusus busway, bogor outer
ring road
b) Plant 2 = sedang produksi box girder semanggi, dan MRT.
c) Plant 3 = produksi standar wika beton, retaining wall, tiang
pancang kotak pondasi, jembatan pre tension-post tension
d) Plant 4: tiang pancang bulat diameter 30-60cm panjang max
20m, produk yg sudah dikerjakan mirip tunnel mrt diameter 4m untuk proyek kali
ciliwung di Jakarta, gedung precast pertamina di cilacap (pipe rack).
Penjelasan Wika
Kobe
Merupakan Perusahaan
gabungan komponen beton jaya (mitsubishi) dan wika dengan luas pabrik: 3.3 ha.
Khusus untuk membuat tunnel segment dan box girder MRT. Pembagian tugas dengan wika
beton 51% dan wika kobe 49%.
Beton dikirim
saat kekuatan 100% biasanya saat 14 hari. Pengangkutan dilakukan per segmen. Pada
Wika kobe, tulangan utama diameter 13, tulangan yg lain diameter 10. Ada 6 segmen
a1-3, b1-2, k. Terdapat quality control sehingga sesuai dengan gambar kerja,
setiap cetakan dan proses pengecoran ada check list. Pra cetak biasa dengan
tulangan standar, tidak menggunakan uji. Setelah di cor butuh 12 jam untuk
dibuka. Ada 5 cetakan m1-5. Jadi ada 30 cetakan untuk segmen MRT. Ada 230
segmen 3 tipe cetakan: Tipe s, Tipe tl (tempered left), Tipe tr (tempered
right)
Ada dinding
pembatas /parapet buat elevated box. Wika kobe merupakan pabrik pertama precast
tunnel di Indonesia. Curing selama 7 hari, 1 ring 6 segmen, 5 besar 1 kecil.
Sekali pengiriman 2 ring. Pemasangannya pake baut di lapangan. Sambungan baut
ada bolongan diujung untuk bisa dimasukin baut cowok. Cetakkan bisa dipake
berkali2, harus dibersihin dulu.
Memang sengaja terdapat
gap antar segmen, nanti pas dipasang di kasih seal. Buat rel bakal dicor lagi
supaya rata. Pengecekan mutu pake sampel silinder, atau hammer test. Pembagian
segmen tergantung desain. Liat ke lapangan, tentukan piernya, lalu pembuatan
segmen. Dalam satu span, ada pier segmen bentuknya lebih tebal menahan gaya
stressing. Vibrasi ada eksternal ada 3 dan internal ada 12 biasanya nempel di
luar cetakan. Terdapat pengaturan elevasi dalam proses pencetakan beton. Biasanya
desainer sudah merancang dimensi. Setelah disetujui konsultan dan owner, lalu
dibuat cetakannya.
I.
SISTEM PRACETAK BETON
Pada pembangunan
struktur dengan bahan beton dikenal 3 (tiga) metode pembangunan yang umum
dilakukan, yaitu system konvensional, system formwork dan system pracetak.
Sistem
konversional adalah metode yang menggunakan bahan tradisional kayu dan triplek
sebagai formwork dan perancah, serta pengecoran beton di tempat. Sistem
formwork sudah melangkah lebih maju dari system konversional dengan
digunakannya system formwork dan perancah dari bahan metal. Sistem formwork yang
telah masuk di Indonesia, antara lain System Outinord dan Mivan. Sistem
Outinord menggunakan bahan baja sedangkan Sistem Mivan menggunakan bahan
alumunium.
Pada system
pracetak, seluruh komponen bangunan dapat difabrikasi lalu dipasang di
lapangan. Proses pembuatan komponen dapat dilakukan dengan kontol kualitas yang
baik.
II.
PENGERTIAN BETON PRACETAK/PRECAST CONCRETE
Precast Concrete/Beton pracetak adalah suatu metode
percetakan komponen secara mekanisasi dalam pabrik atau workshop dengan memberi
waktu pengerasan dan mendapatkan kekuatan sebelum dipasang. Beton pracetak
dibuat di dalam pabrik sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan atau
disesuaikan dengan aplikasi kerja sehingga bisa menghemat biaya dan efisien
waktu. Setelah pembuatan beton tersebut selesai, beton selanjutnya akan di
angkut ke lokasi proyek pembangunan untuk dilakukan pemasangan.
Precast Concrete atau Beton pra-cetak menunjukkan
bahwa komponen struktur beton tersebut : tidak dicetak atau dicor ditempat
komponen tersebut akan dipasang. Biasanya ditempat lain, dimana proses
pengecoran dan curing-nya dapat dilakukan dengan baik dan mudah.
Jadi komponen beton pra-cetak dipasang sebagai komponen jadi, tinggal disambung
dengan bagian struktur lainnya menjadi struktur utuh yang terintegrasi.
Karena proses
pengecorannya di tempat khusus (bengkel frabrikasi), maka mutunya dapat terjaga
dengan baik. Tetapi agar dapat menghasilkan keuntungan, maka beton pra-cetak
hanya akan diproduksi jika jumlah bentuk typical-nya mencapai angka minimum
tertentu, sehingga tercapai break-event-point-nya. Bentuk typical yang
dimaksud adalah bentuk-bentuk yang repetitif, dalam jumlah besar.
Berdasarkan surat
keputusan SNI T-15-1991-03, pengertian beton pracetak ialah komponen beton yang
dicor di tempat yang bukan merupakan posisi akhir dalam suatu struktur. Pada
umumnya, beton pracetak mempunyai kekuatan yang berkisar antara 4.000-6.000 psi
atau bahkan lebih.
Keunggulan
Menggunakan Precast Beton:
·
Memudahkan pekerjaan struktur
maupun finishing
·
Menghemat biaya/anggaran pekerjaan
bangunan sampai dengan 30 % di banding dengan cara konvensional / manual karena
tidak ada pekerjaan ulang
·
Beton precast sebelum bangunan
didirikan sudah bisa dilihat bentuk atau designnya.
·
Kualitas terkontrol dengan baik
karena bentuk dan ukuran sudah pasti, lebih ringan dan rapi
·
Menghemat penggunaan bekisting
karena dengan Precast beton tidak perlu memakai begisting lagi
·
Bisa di bentuk sesuai desain
yang diinginkan
·
Tercapainya efisiensi waktu
Namun, ada 5
masalah utama dalam pengembangan system pracetak seperti sebagai berikut :
1.
Kerjasama dengan perencana di
bidang lain yang terkait, terutama dengan pihak arsitektur dan
mekanikal/elektrikal/plumbing.
2.
Sistem ini relative baru
3.
Kurang tersosialisasikan
jenisnya, produk dan kemampuan system pracetak yang telah ada.
4.
Keandalan sambungan antar komponen
untuk system pracetak terhadap beban gempa yang selalu menjadi kenyataan.
5.
Belum adanya pedoman
perencanaan khusus mengenai tata cara analisis, perencanaan serta tingkat
kendala khusus untuk system pracetak yang dapat dijadikan pedoman bagi pelaku
konstruksi.
III.
PEMBUATAN/PRODUKSI BETON PRACETAK
Proses
produksi/pabrikasi beton pracetak dapat dibagi menjadi tiga tahapan berurutan
yaitu :
1.
Tahap Design
2.
Tahap Produksi
3.
Tahap Pascaproduksi
Berikut adalah
penjelasan dari masing – masing tahap produksi beton pracetak.
1.
Tahap Design
Proses perencanaan
suatu produk secara umum merupakan kombinasi dari ketajaman melihat peluang,
kemampuan teknis, kemampuan pemasaran. Persyaratan utama adalah struktur
harus memenuhi syarat kekuatan, kekakuan dan kestabilan pada masa layannya.
Di wika beton pembagian
segmen tergantung pada desain yang telah di tentukan, dengan melihat ke
lapangan, lalu tentukan piernya, kemudian pembuatan segmen. Dalam satu span,
ada pier segmen bentuknya lebih tebal menahan gaya stressing. Pemberian vibrasi
dalam mendesain ada eksternal sebanyak 3 dan internal ada 12 biasanya menempel
di luar cetakan. Terdapat pengaturan elevasi dalam proses pencetakan beton. Beton
di curing menggunakan curing compound. Biasanya desainer sudah merancang
dimensi. Setelah disetujui konsultan dan owner, lalu dibuat cetakannya.
Alasan bentuk segmen
box girder di desain bolong:
·
Kalo pejal berat
·
Banyak selongsong,
susah dipasang kalo pejal
·
Biar beton ringan
walaupun dikenakan gaya stressing
·
Biar perawatan, orang
bisa masuk
·
Beton post tension,
ditariknya di lapangan
2.
Tahap Produksi
Beberapa item
pekerjaan yang harus dimonitor pada tahap produksi :
a. Kelengkapan
dari perintah kerja dan gambar produk
b. Mutu dari
bahan baku
c. Mutu dari
cetakan
d. Mutu atau
kekuatan beton
e. Penempatan
dan pemadatan beton
f. Ukuran
produk
g. Posisi
pemasangan
h. Perawatan
beton
i. Pemindahan,
penyimpanan dan transportasi produk
j. Pencatatan
( record keeping )
Tahap produksi
terdiri dari :
a. Pembuatan
rangka tulangan
b. Pabrikasi
tulangan dan cetakan
c. Penakaran
dan pencampuran beton
d. Penuangan
dan pengecoran beton
e. Transportasi
beton segar
f. Pemadatan
beton
g. Finishing
/ repairing beton
h. Curing
beton
Di bawah ini penjelasan
singkat langkah – langkah dalam pembuatan beton pracetak pada tahap produksi :
Langkah 1 :
Pembuatan Cetakan
Cetakan berfungsi
untuk membentuk beton dengan spesifikasi yang sesuai perencanaan. Bahan baku
untuk membuat cetakan beton yaitu papan kayu. Papan-papan kayu tersebut lantas
dibentuk kotak dan ditahan menggunakan paku secukupnya. Penentuan ukuran dari
cetakan harus benar-benar diperhatikan karena akan memengaruhi hasil jadi beton
pracetak. Beton yang baik seyogyanya bisa dipakai lagi hingga sebanyak 50 kali.
Setelah material
datang, ada quality control pada cetakan untuk pembuatan baja, untuk proyek MRT
harus sangat presisi +- 2mm. Saat pembuatan cetakan diukur satu2 dengan presisi
+-2mm jika lebih, maka tidak bisa dipakai. Cetakan di produksi per segmen.
Menggunakan sistem short line yaitu pengecoran per segmen. Kalo 1 segmen 1
hari, 10 segmen 10 hari. Produk hasil jadi tingkat presisi +-5mm.
Besi datang
masih panjang, di bending, di potong(rebar zig) presisi +-2mm. Dirancang sudah
membentuk sudut terluar. Cetakan untuk perakitan. Setelah selesai diangkat ke
troli, lalu masuk ke plant, diangkat, lalu masuk ke cetakkan. Cetakkan sedang
dioles dengan minyak cetak agar tidak lengket 1 span ada 12 segmen lalu dicetak.
Langkah 2 :
Pembuatan Adukan Beton
Secara prinsip,
pembuatan adukan beton dilakukan dengan mencampurkan bahan pengisi dan bahan
pengikat menjadi satu. Bahan-bahan yang dimaksud antara lain pasir, kerikil,
semen, dan air dengan perbandingan komposisi sesuai kualitas yang diharapkan.
Untuk mengubah sifat alami dari beton, Anda bisa menambahkan zat aditif
tertentu ke dalam adukan tersebut.
Langkah 3 :
Penuangan Adukan Beton
Adukan beton yang
sudah terbentuk kemudian dituangkan ke dalam cetakan. Pastikan dalam
penuangannya, adukan ini disebarkan secara merata dan memenuhi setiap bagian
cetakan. Penuangan adukan yang salah akan menyebabkan mutu beton menurun.
Bahkan kekuatan beton pun dapat berkurang drastis apabila penampangnya tidak
tercetak sempurna. Adukan beton sebaiknya dituangkan setengahnya dahulu,
kemudian dilakukan pemasangan tulangan baja di tengah cetakan, dan diteruskan
lagi dengan penuangan adukan sampai penuh.
Langkah 4 :
Pemasangan Tulangan Baja
Kebanyakan beton
pracetak dipakai untuk menahan beban dari bangunan.
Tidak hanya pelat lantai, beton ini juga kerap digunakan sebagai pembentuk
struktur balok dan kolom
bangunan. Oleh karena itu, beton harus mampu menahan gaya beban dan
gaya tarik dengan baik. Solusinya Anda bisa memasang beberapa tulangan baja ke
dalam adukan beton di dalam cetakan tadi sehingga nantinya akan terbentuk beton
bertulang. Pemasangan tulangan dilakukan ketika kondisi adukan masih basah.
Langkah 5 :
Pengeringan Beton (curing)
Adukan beton
sebaiknya dikeringkan secara alami dengan cara mengangin-anginkannya.
Penjemuran adukan beton di bawah terik sinar matahari langsung justru dapat
mengakibatkan beton mengalami keretakan sehingga tak layak pakai. Selama proses
pengeringan berlangsung, beton juga perlu disiram dengan air secara berkala
untuk menghindari beton mengering secara mendadak. Perawatan terhadap beton
dilakukan sampai berumur 7 hari, sedangkan beton akan mengering sempurna dan
boleh digunakan setelah usianya mencapai 30 hari. Pada elemen-elemen beton yang
besar steam curing diberikan kedalam beton dengan cara diselubungi Suhu 60-700C
selama 2-3 jam. Beton di curing
menggunakan curing compound.
3.
Tahap Pascaproduksi
Terdiri dari tahap
penanganan ( handling ), penyimpanan ( storage ), penumpukan ( stacking ),
pengiriman ( transport ) dan tahap pemasangan di lapangan ( site erection )
Handling→Pasca umur beton memenuhi, unit beton pracetak dipindahkan ke
storage/gudang, disusun secara vertikal dan diberi bantalan antar unit pracetak
Transportasi dan
alat angkut (pengiriman ke lapangan) → Transportasi unit pracetak.
Transportasi
adalah pengangkatan elemen pracetak dari pabrik ke lokasi pemasangan. Sistem
transportasi berpengaruh terhadap waktu, efisiensi konstruksi dan biaya
transport.
Yang perlu
diperhatikan dalam system transportasi adalah :
- Spesifikasi alat transport → lebar, tinggi, beban maks, dimensi elemen
- Ronte transport → jarak, lebar jalan, kepadatan lalu lintas, ruang bebas bawah
jembatan
- Perijinan dari instansi yang
berwenang.
Alat angkat yaitu
memindahkan elemen dari tempat penumpukan ke posisi penyambungan ( perakitan ).
Peralatan angkat
untuk memasang beton pracetak dapat dikategorikan sebagai berikut :
1. Keran
mobile
2. Keran
teleskopis
3. keran
menara
4. Keran
portal
Pemilihan
alat angkut dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
- Macam komponennya : linier
atau plat
- Ketinggian alat angkat :
berhubungan dengan ketinggian bangunan yang akan dibangun
- Berat komponen : berdasarkan
beban maksimum
- Kondisi local : pencapaian
lokasi dan topografi
Pengangkutan
elemen pracetak yang akan dipasang minimal harus mempertimbangkan sebagai
berikut :
- Berapa lama waktu yang diperlukan
untuk mencapai lokasi.
- Jadwal pemasangan elemen pracetak
sesuai jadwal rencana.
- Alternatif jalan lain yang
dilewati seandainya ada satu jalan terjadi hambatan.
- Daya tampung lokasi proyek dalam
menerima pengiriman elemen pracetak.
- Kemampuan crane dalam mengangkat
elemen pracetak.
Install /erection (pelaksanaan konstruksi) → memasang
unit pracetak pada struktur,memasang joint (cast-in-site)
Metode dan jenis
pelaksanaan konstruksi precast diantaranya adalah :
a) Dirakit
per elemen
b) Lift –
Slab system
Adalah pengikatan
elemen lantai ke kolom dengan menggunakan dongkrak hidrolis.
Prinsip
konstruksinya sebagai berikut :
- Lantai menggunakan plat-plat beton
bertulang yang dicor pada lantai bawah
- Kolom merupakan penyalur beban
vertical dapat sebagai elemen pracetak atau cor di tempat.
- Setelah lantai cukup kuat dapat
diangkat satu persatu dengan dongkrak hidrolis.
c) Slip – Form
System
Pada system ini
beton dituangkan diatas cetakan baja yang dapat bergerak memanjat ke atas
mengikuti penambahan ketinggian dinding yang bersangkutan.
d) Push – Up
/ Jack – Block System
Pada system ini
lantai teratas atap di cor terlebih dalu kemudian diangkat ke atas dengan
hidranlic – jack yang dipasang di bawah elemen pendukung vertical.
e) Box System
Konstruksi
menggunakan dimensional berupa modul-modul kubus beton.
Dalam pemasangan
elemen pracetak ke lokasi posisi terakhirnya,beberapa hal yang harus
diperhatikan adalah :
1.
Site Plan
2.
Peralatan
3.
Siklus Pemasangan
4.
Tenaga Kerja
Site Plan
Site Plan yang ada maka akan dapat diperoleh hal-hal sebagai berikut :
ü Dapat menempatkan posisi crane di lokasi proyek sehingga dapat
difungsikan semaksimal dalam elemen-elemen pracetak ke posisi terakhirnya.
ü Dapat direncanakan tempat penumpukan elemen pracetak yang memudahkan
pengaturannya.
Peralatan
Dalam penggunaan elemen pracetak,menjadi pertimbangan adalah :
ü
Beberapa crane yang diperlukan
dalam suatu proyek agar dapat digunakan semaksimal mungkin .
ü
Berapa radius perputaran crane.
ü
Peralatan pembantu serta jumlah
kebutuhan guna mendukung siklus pemasangan elemen pracetak seperti truk,dan
lain sebagainya.
Siklus Pemasangan
Secara garis besar
siklus pemasangan dari elemen pracetak dapat dijabarkan sebagai berikut :
ü
Pengecoran elemen poer
ü
Pemasangan elemen balok
ü
Pemasangan elemen pelat
ü
Pengecoran over topping
IV.
PEMASANGAN BETON PRACETAK DI LAPANGAN
Pemasangan beton pracetak di lapangan dapat menggunakan ikatan antar
komponen antara lain adalah sambungan, ikatan, dan simpul. Berikut adalah penjelasan
masing – masing ikatan antar komponen tersebut.
1.
Sambungan
Pada umumnya
sambungan – sambungan bisa dikelompokkan seperti sebagai berikut :
A.
Sambungan yang pada pemasangan
harus langsung menerima beban ( biasanya beban vertical ) akibat beban sendiri
dari komponen .
B.
Sambungan yang pada keadaan
akhir akan harus menerima beban-beban yang selama pemasangan diterima oleh
pendukung pembantu.
C.
Sambungan pada mana tidak ada
persyaratan ilmu gaya tapi harus memenuhi persyaratan lain seperti : kekedapan
air, kekedapan suara.
D.
Sambungan-sambungan tanpa
persyaratan konstruktif dan semata-mata menyerdiakan ruang gerak untuk
pemasangan .
2.
Ikatan
Cara mengikatkan
atau melekatkan suatu komponen terhadap bagian komponen konstuksi yang lain
secara prinsip dibedakan sebagai berikut :
Ikatan Cor ( In
Situ Concrete Joint )
Penyaluran gaya
dilakukan lewat beton yang dicorkan
ü
Diperlukan penunjang /
pendukung pembantu selama pemasangan sampai beton cor mengeras
ü
Penyetelan berlangsung dengan
bantuan adanya penunjang/pendukung pembantu. Toleransi penyusutan diserap oleh
Coran Beton.
Ikatan Terapan
Cara neghubungkan
komponen satu dengan yang lain secara lego (permainan balok susun anak),
disebut ikatan terapan.
Dimulai dengan
hubungan dengan cara perletakan, teknik ini berkembang menjadi “saling
menggigit”.
ü
Proses pemasangan dimungkinkan
tanpa adanya pendukung/penunjang pembantu.
ü
Penyetelan dan perataan beban
bisa dilakukan pada bidang kontak dengan memakai aduk beton, neoprene, pelat
baja, lempeng timah dll.
ü
Untuk menyalurkan gaya
horizontal bisa dibantu baut, angker dll.
Ikatan Baja
Bahan pengikat
yang dipakai : Plat baja dan Angkur. Sistem ikatan ini dapat dibedakan
sebagai berikut :
ü
Menyambung dengan cara di las (
Welded Steel )
ü
Menyambung dengan Baut / Mur /
Ulir ( Corbel Steel )
Catatan :
a)
Harga dari profil baja sebagai
pengikat tinggi
b)
Mungkin dilaksanakan tanpa
pendukung / penunjang
c)
Harus dilindungi dari : korosi,
api dan bahan kimia. Dengan Mortar / In Situ concrete Joint sebagai pelindung /
Finishing ikatan.
Ikatan Tegangan
Merupakan
perkembangan lebih jauh dari ikatan baja dengan memasukan unsure Post
Tensioning dalam system koneksi.
ü
Memerlukan penunjang /
pendukung Bantu selama pemasangan
ü
Perlu tempat / ruang yang
relatuf besar untuk Post Tensioning
ü
Angker – angker cukup mahal
3.
Simpul
Merupakan kunci
dalam struktur yang memakai komponen pra – cetak dan merupakan tempat pertemuan
antara 2 atau lebih komponen struktur
1.
Secara garis besar dapat
dikelompokkan sebagai berikut :
2.
Simpul Primer → Pertemuan yang menghubungkan kolom dengan balok dan juga terhadap
plat lantai. Disisni beban dari plat akan diteruskan ke pendukung-pendukung
vertical.
3.
Simpul Pertemuan Kolom → Pertemuan dimana beban-beban vertical dan sesewaktu momen-momen
juga disalurkan.
4.
Simpul Penyalur Sekunder-Primer
( Pelat Balok ) →
Untuk menyalurkan beban vertical
5.
Simpul Pendukung sesama Plat /
dengan Balok dan Kolom → Untuk menyalurkan beban horizontal
dalam bentuk tegangan tekan – tarik dan geser
6.
Simpul yang Mampu Menahan Momen
→ Yang secara statis bisa membentuk komponen pendukung tapi oleh
alasan tertentu. Misalnya transportasi dibuat terdiri dari 2 atau lebih bagian.



